Kamis, 2008 Maret 06

Tembang Klasik Cirebonan

Minggu, 2008 Maret 02

Muludan

Muludan artinya merayakan mulud yang berasal dari bahasa arab Maulid yang artinya kelahiran. Bulan ini adalah kelahiran Kanjeng Rasulullah Muhammad saw pada tanggal 12 Robi'ul Awal. Bulan Mulud adalah bulan ke tiga dalam perhitungan kalender Islam Jawa. Di bulan ini biasanya ramai terutama di pusat pemerintahan dijaman Kasultanan Cirebon.

Sperti di kraton-kraton lainnya di tanah Jawa, di Cirebon juga diadakan acara yang dinamakan Grebeg Mulud yang lebih dikenal dengan sebutan "Panjang Djimat". Acara ini diadakan oleh tiga Keraton, yaitu Kasepuhan , Kanoman, Kacirebonan pada tepat tgl 12 Mulud. Acara ini cukup cukup menarik perhatian masyarakat terutama masyarakat di sekitar kota Cirebon.

Suasana acara Panjang Djimat seolah-olah melambangkan kehamilan dan kelahiran yang di ekspresikan dengan simbol-simbol. Kelahiran dari Rasulullah Muhammas saw. Prosesi Panjang Djimat diawali dari Keraton yang nantinya diiringi iring-ringan yang membawa Panjang Djimat dan beberapa pusaka dari Bangsal Agung Panembahan ke Langgar Agung pada tepat pukul Sembilan malam dan kemabli pukul sebelas ke Bangsal Agung Panembahan. Di Langgar Agung sebelum kembali ke Bangsal Agung diadakan acara Aysraqalan yang di pimpin oleh Penghulu Keraton. Sega Rasul (Panjang Rasul) kemudian akan di bagikan kepada yang hadir disitu dan biasanya orang-orang akan berebutan untuk mengambil bagian walaupun hanya sedikit, yang mereka yakin mengandung Barakah. Persiapan semua prosesi dimulai dari hari ke limabelas bulan Sura dengan membersihkan beberapa bagian Keraton dan pusaka-pusaka yang di lakukan oleh para abdi dalem (orang-orang yang mengabdi ke keratin tanpa di bayar).

Panjang Djimat sendiri berupa piring lodor besar buatan china yang berdekorasi Kalimat Syahadat bertulisakan huruf Arab yang diyakini dibawa langsung oleh Sunan Gunung Djati. Sebanarnya acara panajng djimat ini sendiri hanya mengingatkan kita bahwa Panjang Djimat berarti; Panjang berarti dawa (panjang) tak berujung, Djimat berarti Si (ji) kang diru (mat). Artinya tulisan Syahadat yang tertulis di piring tersebut supaya selalu kita pegang selamanya sebagai umat muslim hingga akhir hayat.

Iring-iringan itu sendiri pada dasarnya melambangkan moment kelahiran Nabi Muhammad saw. Dianataranya ada 19 bagian penting dalam iring-iringan tersebut. Satu bagian diikuti oleh bagian lainnya dan masing-masing bagian ada seorang yang membawa lilin-lilin. Pertama seorang pria yang membawa sebatang lilin di tangannya yang berperan sebagai pelayan (Khadam) berjalan memberikan cahaya ke bagian kedua diikuti dua orang pria. Salah seorang pria membawa sesuatu yang menggambarkan sosok Abu Thalib (paman Rasul) dan pria kedua menggambarkan Abdul Al0Muthalib (kakek Rasul). Mereka berjalan di malam hari untuk di berikan ke midwife. Selanjutnya ada salah satu grup pria yang membawa dekorasi yang di sebut Manggaran, Nagan dan Jantungan yang melambangkan kebaikan Abdul Al-Muthalib, Seorang wanita membawa Bokor Kuningan yang terisi dengan koin-koin didalamnya yang melambangkan sifat ibu Rasul, selanjutnya diikuti seorang wanita yang membawa nampan yang terdiri dari botol berisi Lenga Mawar (distilasi bunga mawar) yang melambangkan Air Ketuban. Sebuah nampan yangh terdiri dari kembaang Goyah, Obat tradisonal melambangkan Plasenta. Penghulu Keraton bertindak seolah-olah memotong ari-ari.

Selanjutnya inti dari Panjang Djimat tersbut terdiri dari dua belas acara yang melambangkan 12 Rabi'ul Awwal atau Mulud yang merupakan hari kelahiran Rasulullah yang misinya membawa Kalimat Syahadat. Masing-masing piring dibawa oelh dua orang yang di iringi dua orang pengawal, semua yang membawa piring-piring tersebut di biasa dipanggil Kaum Masjid Agung, Panjang Djimat adalah tujuh angka penting. Kalimah Syahadat membawa setiap orang untuk menuntun ke tujuh tingkatan atau di Cirebon dikenal dengan Martabat Pitu yang merupakan doktrin dari tarek Syattariyah. Kembali ke prosesi ada dua orang pria yang membawa sejenis termos yang berisi bir untuk mengumpulkan darah setelah melahirkan, diikuti dua orang pria yang masing-masing membawa nampan dengan botol yang berisi jenis bir yang lain yang melambangkan kotoran saat melahirkan. Sebuah pendil yang berisi Sega Wuduk (nasi uduk) di bawa oleh seorang pria yang melambangkan betapa susahnya saaat melahirkan. Selanjtnya diikuti dengan Nasi Tumpeng dengan bekakak ayam yang di sebut dengan Sega Jeneng yang melambangkan Syukuran (Selametan) lahirnya seorang bayi. Selametan pada saat di berikan nya nama untuk seorang bayi yang biasanya pada saat ari-ari sang bayi mongering dan lepas (Puput). Tiga bagian terakhir pertama adalah delapan Cepon (wadah yang terbuat dari bambu) yang melambangkan delapan sifat Rasul. Empat sifat pertama adalah Sidiq (Cerdas), Amanah (Dipercaya), Tabligh (Menyampaikan), Fathonah(pintar), kempat sifat ini disebut sifat Wajib yang dimiliki Rasul. Dan keempat lainnya adalah sifat yang tidak dimiliki oleh Rasul yaitu Kidzib, Khianat, Kitman dan Baladah. Masing-masing Cepon penuh dengan beras yang menandakan Kemakmuran dan Yang Maha Kuasa memberikan naungan keseluruh alam (Rahmatan lil-'Alamin). Selanjutnya diikuti empat buah Meron atau Tenong (wadah besar bebentuk bundar) menandakan manusia terdiri dari empat elemen, Tanah, Air, Udara dan Api. Ada sumber yang mengatakan bahwa keempatnya adalah empat sahabat kalifah Abu Bakr, Umar, Ustman dan Ali. Selanjutnya diakhiri dengan empat Dongdang (wadah besar) yang melambangkan spiritual manusia yang terdiri dari Ruh, Kalam, Nur dan Syuhud yang nenandakan Keagungan Tuhan. Ada juga yang mengatakan keempat-empatnya adalah melambangkan empat Madzhab: Maliki, Syafi'I, Hanafi dan Hanbali.

Beberapa daerah juga merayakan acara Muludan ini dengan prosesi yang berbeda, akan tetapi biasanya acara membersihkan pusaka yang disaksikan oleh khalayak ramai seperti di Astana Gunung Djati pada tanggal 11, di Desa Panguragan pada tanggal 12, di desa Tuk pada tanggal 17 dan desa Trusmi pada tanggal 25 di bulan Maulud ini.

Jumat, 2008 Februari 29

Wulan Sapar (Saparan)

Saparan atau Safar adalah bulan ke dua dalam perhitungan kalender Islam Jawa. Bulan ini di percaya masyarakat adalah bulan musim kawin hewan, atau khewan sing pada kawin seperti anjing (asu), sehingga di bulan ini sebaikanya tidak dilakukan acara pernikahan atau masyarakat Cirebon mengenal bulan larangan untuk melakukan pernikahan. Disamping itu juga bulan sapar dikenal dengan bulan yang sering terjadi malapetaka atau wulan sing akeh sial (blai) khususnya hari rabu terakhir di bulan ini atau orang Cirebon mengenal dengan istilah "Rebo Wekasan". Asal usul keyakinan ini juga belum jelas tapi dari beberapa sumber yang di yakini masyarakat bahwa si hari rabu terakhir di bulan Sapar ini lah banyak terjadi bala. Sehingga di percaya untuk mencegah bala ini kita di anjurkan melakukan sholat 4 rokaat dengan bacaan surat Al-kautsar sebanyak 17 kali di rokaat pertama, Surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali di rokaat ke dua, Surat Al-Falaq di rokaat ke tiga dan Surat An-nas di baca satu kali di rokaat yang ke empat dan di akhiri dengan membaca do'a Asyura.

Masyarakat Cirebon percaya di bulan ini untuk menghindari melakuakn perjalanan jauh, perkerjaan yang cukup berbahaya. Dianjurkan di bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua dan kaum jompo, dilain itu pula kita lebih meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi diantara sesama. Berkaitan dengan ini maka masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan 3 macam kegiatan yang dikenal dengan "Ngapem, Ngirab dan Rebo Wekasan". Ngapem berasal dari kata Apem yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung beras yang di fermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (Kinca) yang terbuat dari gula jawa dan santan. Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (Selametan) di bulan sapar yang kita terhindar dari malapetaka. Pesan yang di ambil dari Apem dan Kinca ini juga melambangkan kita untuk lebih memperhatikan fakir miskin , tetangga dan kerabat dekat untuk lebih mempereart tali silaturahmi karna di bulan ini penih dengan malapetaka. Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memaknnya harus di celupkan di kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah. Ada juga cerita dari beberapa sumber bahwa tradisi ngapem ini berasal dari keraton yang sering membagi-bagikan apem di bulan ini, ada juga diartikan pada masa penjajahan belanda di cirebon bahwa apem melambangkan belanda yang harus di musnahkan dari cirebon dengan memasukan apem ke dalam kinca.
Bulan Safar yang diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinan bisa terjadi di antara kita. hal ini konon di yakini bahwa Sunan kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya Rebo Wekasan beliau mandi di Sungai Drajat pada saat berguru pada Sunan Gunung Djati untuk membersihkan diri dari bala di hari Rebo Wekasan. Hal ini akhirnya di ikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang di yakini dulu Sunan kalijaga mandi. Adat ini disebut dengan "Ngirab" yang artinya bergerak atau menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor. Beberapa masyarakat masih meyakini adat ini dengan dengan serius secara sepiritual, akan tetapi kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk melupakan bulan yang penuh bala ini.
Semua kegiatan di bulan Sapar ini belumlah lengkap bila tidak di akhiri dengan Rebo Wekasan yang merupakan hari yang sangat penting. Selepas Isya hingga Shubuh merupakan pergantian hari yg biasanya di pagi hari banyak anak-anak yang berkopiah dengan sarung yang di kalungkan ke badannya akan keliling dari rumah ke rumah untuk mensenandungkan nyanyian "Wur tawur nyi tawur, selamat dawa umur..." yang artinya " Bu, bagikan lah sesuatu ke kami semoga selalu sehat/aman dan panjang umur..." artinya bebas/selamat lah anda setelah hari Rebo terakhir ini. Bisanya si empunya rumah akan menanyakan " Sing endi cung?" terus akan di jawab oleh mereka dari pesantren atau dari daerah mana mereka tinggal...Mereka biasanya berkelompok minimal dua atau tiga orang dan kadang berlima.

Ada juga sumber sejarah yang mengatakan bahwa anak-anak tawurji ini berasal dari pengikut Syeikh Lemahabang/Syeh Siti Djenar alias Syeikh Datuk Abdul Djalil alias Syeikh Jabaranta. Berdasarkan sejarah dari para orang terdahulu bahwa Syek Siti Djenar ini dulunya bagian dari para Wali hanya beliau mengajarkan sesuatu yang membuat orang lupa/mengesampingkan Syariat. sehingga beliau konon di adili oleh dewan Walisongo di Masjid Agung Cirebon dan di eksekusi oleh Sunan Kudus dengan menggunakan keris Kantanaga milik Sunan Gunung Djati. Stelah beliau wafat jasadnya di makamkan di Kemlaten. Setelah wafatnya Syeikh Lemah Abang para pengikutnya (Abangan) sangatlah sedih, maka usul Sunan Kalijaga atas persetujuan Sunan Gunung Djati dengan Rebo Wekasan ini di anjurkan untuk berdoa, memberi selamat dari setiap rumah ke rumah agar selalu dilindungi oleh yang maha kuasa dan mereka di santuni dengan memberikan uang jajan karna tidak ada lagi yang mengasuh mereka.

Sura (Muharram) berkenaan dengan Hari jadi Kota Cirebon

Di Cirebon Sura berdasarkan hari pertama ke sepuluh di bulan Muharam yang juga bertepatan dengan Tahun baru Jawa dan Tahun baru Islam. Kota Cirebon sendiri hari Jadinya bertepatan dengan 1 Sura 1445. Peringatan Tahun baru Islam dan juga hari jadi Cirebon biasanya di rayakan oleh masyarakat Cirebon khususnya keluarga dari Keraton dengan mengadakan acara "Memaca Babad Cirebon" dan juga ada prosesi tertentu di Komplek Makan Sunan Gunung Djati (Gunung Sembung). Biasanya Pemerintah beserta masyarakat setempat mengadakan upacara selamatan berupa festival kebudayaan Cireboon, pameran dan lain-lain.

Didalam bulan muharram juga terkait dengan beberapa kejadian bersejarah. Tanggal 10 Muharram yang kita kenal dengan hari Asyura. Pada hari ini biasanya umat muslim melakukan puasa sunah Asyura. Dipercaya bahwa pada tanggal ini adalah kejadian pertama Adam dan Hawa di turun kan ke dunia akibat kesalahan yang telah mereka lakukan di Syurga, kisah Nabi Idris, mendaratnya kapal Nabi Nuh, Nabi Ibrahim yang diselamatkan dari api yang membakar dirinya, Nabi Musa mendapat 10 perintah tuhan, nabi Yusuf bebas dari penjara akibat fitnah Zulaikha, Nabi Yakub yang bisa meliahat dari kebutaannya, Nabi Yunus keluar dari perut ikan, Nabi Ayub sembuh dari sakit yang dideritanya, Bertemunya nabi Yusuf dan Yakub yang terpisah selama 40 tahun, hari lahirnya Nabi Isa dan diangkatnya beliau ke Syurga, nabi Muhammad saw menikah dengan Siti Khadijah dan masih banyak lagi kejadian-kejadian bersejarah dalam Islam lainnya.

Di Cirebon sendiri masyarakat tradisional masih melakukan Selametan, Sedekah berupa "Bubur Sura atau Bubur Slabrak" yang di bagikan ke tetangga dan saudara terdekat. Bubur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan santan. yang diatasnya di taburi dengan beberapa pelengkap seperti tempe, kacang goreng, bawang goreng dan lain-lainnya, yang rasanya khas. Pesan yang di sampaikan dari bubur ini sangat jelas bahwa bubur itu sendiri berwarna putih yang melambangkan hari Asyura yang artinya Suci dan beberapa pelengkap itu sendiri melambangkan bahwa di hari tersebut banyak terjadi event-event bersejarah yang kita harus selalu ingat untuk menambah keimanan kita. Kapan dimulainya adat bubur Sura ini juga masih belum jelas kemungkinan di mulai pada saat jaman para Wali. Tapi sekilas kita bisa tahu bahwa pesan yang disampaikan bahwa selain kita memperingati hari bersejarah umat islam juga kita melatih diri untuk senantiasa bersedekah dan berbagi dengan orang lain di sekitar kita.

Rabu, 2007 September 12

Makam di Amparan Jati (Gunung sembung)

Di kompleks Makan sunan Gunung Jati terdapat beberapa tingkat dan gedung yang terdiri dari beberapa makam sesuai masa para pendahulu. Di bawah ini susunan gedung dan makam yang terdapat di dalam nya:

Gedung Jinem
1. Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati
2. Tubagus Paseh/Fadillah Khan/Falatehan
3. Nyi Mas Rarasantang/Nyi Mas Syarifah Mudaim
4. Nyi Mas Khuraisin/Nyi Gede sembung
5. Nyi Mas Pakungwati/Nyi Gede Tepasari
6. Pangeran Dipati Carbon
7. Pangeran Bratakelana
8. Pangeran Pasarean
9. Ratu Mas Nyawa
10. Ratu Wanawati
11. Pangeran Dipati Ratu
12. Ratu Raja Wulung Ayu
13. Pangeran Dipati Agung
14. Ratu Raja Agung
15. Pangeran sendang Lemper
16. Putra Tubagus Paseh
17. Putra
18. Putra

Kompleks Mbah Kuwu Carbon
1. Pangeran Walangsungsang/Mbah Kuwu Carbon/Pangeran Cakrabuana
2. Sayid Abdurahman/Pangeran Panjunan
3. Sayid syarifudin/Pangeran Kejaksan
4. Puti Nio Ong Tien/Nyi Mas Rara sumanding

Kompleks Ki Gede Bungko
1. Ki Gede Sembung/Gegeden Kalisapu
2. Pangeran Tuban
3. Pangeran Sendang Jayaning Laut
4. Pangeran Puyuman/Ki gede Bungko

Kompleks Panembahan Ratu
1. Pangeran Dipati Wirasuta
2. Sultan Panembahan Ratu/Sultan II Cirebon
3. Ratu Mas Gelampok/Nyi Mas Ratu Pajang
4. Pangeran Suryamajanegara
5. Ki surapati Nenggala/Dipati Keling

Kompleks Pangeran sendang Garuda
1. Pangeran Manis/Ki Penanggapan
2. Ratu Sekarwangi
3. Pangeran Jipang
4. Ratu Sandrawati
5. Raden Pandan
6. Raden Sepet
7. Pangeran Kagok
8. Pangeran Magrib
9. Pangeran Sindang Garuda

Gedung Sultan sepuh Awal
1. Pangeran Wanaon
2. Pangeran Dipati Agung
3. Pangeran Dipati Ageng
4. Nyi Mas Ratu Sewu
5. Pengeran Dipati Permadi
6. Sultan Raja samsudin/Sultan sepuh Awal
7. Guti Ayu Wedaling Asri

Gedung Sultan Gusti
1. Pangeran Dipati Anom Ngalenggah
2. Pangeran Nata Carbon
3. Ratu Dalem Kencanawungu
4. Sultan Muhammad Badridin/Sultan Kanoman Awal

Gedung Sultan Jamaludin
1. Sultan sepuh Raja Jamaludin
2. Gusti Ayu Ratnawulan
3. Pangeran Wijayakarta
4. Pangeran Tumenggung
5. Pangeran suryaningrat
6. Pangeran Giri Pamungkas
7. Pangeran Demang
8. Pangeran Arya Carbon
9. Ratu Arya Carbon
10. Ratu Ayu Raja Widianingsih
11. Panembahan Pati Tohpati
12. Ratu Ganjarpati
13. Pangeran Giri Panata
14. Pangeran Wanatapati

Gedung Sultan Komarudin
1. Sultan Muhammad Komarudin
2. Ratu Dalem Nurul Lintang

Gedung Panembahan Anom
1. Panembahan Ratu Sesangkan
2. Nyi Mas Ratu Sesangkan
3. Panembahan Mas Carbon
4. Nyi Mas Ratih Ria
5. Nyi Mas Giri Carbon

Gedung Sultan Mandurareja
1. Pangeran Dipati Raja Kesumah
2. Sultan Muhammad Mandurareja
3. Sultan Muhammad Abusoleh Alimudin
4. Pangeran Dipati Kedaton
5. Pangeran Dipati Rama Menggala
6. Pangeran Dipati Keprabon
7. Pangeran Gusti
8. Ratu Dalem sekar Kedaton
9. Pangeran Kesumahdiningrat
10. Pangeran Werak

Gedung Gedhong Malang
1. Sultan Raja Tajul Arifin
2. Pangeran Dipati Tohpati
3. Pangeran Temenggung
4. Pangeran Sebrang
5. Pangeran Natareja
6. Nyi Mas Ratu Natareja
7. Sultan Raja Jaenudin
8. Ratu Raja Wulung Ayuntiarsih
9. Pangeran Raja Ningrat
10. Pangeran Raja Kidul
11. Ratu Raja Wulung Ayu
12. Ratu Siti Khodijah
13. Pangeran Dipati Adiwijaya
14. Ki Mudin Jamiril
15. Ki Wisesa
16. Pangeran Wijayanegara
17. Pangeran Kesumaningrat
18. Ratu Endangsari
19. Ratu Kesimpar
20. Pangeran Baureksa

Gedung Sultan Nurus
1. Pangeran Wangsa Kertayasa
2. Pangeran Dipati Rama Menggala
3. Pangeran Dipati Eyang Suwargi
4. Pangeran Dipati Nayaka
5. Ratu Dalem Rosma Kencana Furi
6. Sultan Muhammad Nurbuat
7. Sultan Muhammad Zulkarnaen
8. Ratu Dalem Raja Wulung Ayu
9. Ratu Dalem Agustina
10. Sultan Muhammad Nurus
11. Pangeran sukma Gianti

Gedung Sultan Matanghaji
1. Sultan Raja Saefudin Matanghaji
2. Gusti Ayu Kesuma ningrat
3. Pengeran Dipati Ugawa
4. Pangeran Arya Carbon
5. Pangeran selang
6. Pangeran Hadibrata

Gedung Sultan sena
1. Sultan Sena Muhammad Zaenuddin
2. Gusti Ayu Raja Ratna
3. Pangeran Dipati Rajaningrat
4. Pangeran Dipati Suryaningrat

Gedung Kadipaten
1. Ki Khotib Madlain
2. Pangeran Dipati Suryamenggala
3. Pangeran Dipati Arya Kulon
4. Pangeran Dipati Arya Kidul
5. Pangeran Sendang Blimbing
6. Pangeran Dipati Anom Carbon
7. Pangeran Dipati Wiranegara
8. Pangeran Dipati Wirasuta
9. Nyi Mas Ratu Demang
10. Nyi Mas Ratu Winaon
11. Pangerang Purabaya (ada diluar gedung)

Gedung Nyi Mas Rarakerta
1. Nyi Mas Ratu Rengsari
2. Nyi Ma Ratu Dampo
3. Nyi Mas Ratu Medangsari
4. Nyi Mas Ratu Rarakerta
5. Nyi Mas Ratu Pamuji
6. Nyi MasRatu Kirana
7. Pangeran Dipati Awangga (ada diluar gedung)

Kompleks Nyi Gede Babadan
1. Pangeran Jakalelana
2. Pangeran Sukmalelana
3. Nyi Gede Babadan/Nyi Mas Selangkring
4. Nyi Mas Tanjungsari

Gedung Sultan Raja suleman
1. Pangeran Dipati Natahing Carbon
2. Pangeran Adiwinata
3. Pangeran Dipati Ragahingsukma
4. Ratu Raja Wulandari
5. Ratu Kencana
6. Sultan Sepuh Raja suleman
7. Sultan Sepuh Raja Hasanudin
8. Sultan Sepuh Raja samsudin
9. Sultan Sepuh Raja Ningrat
10. Sultan Sepuh Raja Jamaludin Aluda
11. Sultan Sepuh Rajaningrat
12. Ratu Ratna sawiji
13. Ratu Rata Kesumaning Ayu
14. Pangeran Diupati suryanegara
15. Pangeran Angkawijaya
16. Pangeran Antasena
17. Pangeran Ngalaga
18. Pangeran Wisnu Hain
19. Ratu Raja Wulangkencana
20 Ratu Raja Antarwulan

Nama-nama Pintu bagian dalem urutan dari atas
1. Pintu Gusti
2. Pintu Bachem
3. Pintu Kacha
4. Pintu soko
5. Pintu Pandan
6. Pintu Gandok
7. Pintu Pesujudan (tempat para penziarah umum)
8. Pintu Dalem Keraton
9. Pintu Beling
10. Pintu Penganten

Beberpa pintu lain nya yg terletak di komplek Makam
1. Pintu Terathe (Terletak di Makam Nyi Putri Cina)
2. Pintu Kanoman (Terletak di dekat sumur Kanoman)
3. Pintu Mregu (terletak di tempat orang Cina berziarah)
4. Pintu Krapyak (Terletak di tempat Kraman)
5. Pintu Panglubar (Pintu pertama tamu masuk/Alun-alun)

Tulisan arab berbahasa Cirebon

Tulisan Arab gundul berbahasa Cirebon yang terdapat di setiap pilar di kompleks Makam sunan Gunung Jati Cirebon antara lain:

"setuhune iku menusa njaluka karo pangerane kelawan madep tur khusyu, pangerane arep nyumbadani iku panjaluke manusae kelawan ngilmu kang den lakoni...."

Kamis, 2007 Juli 26

Topeng Cirebon dan Kraton Cirebon

Menulis tentang keberadaan seni Tari Topeng Cirebon dengan kaitannya di dalam Keraton Cirebon, maka tidak bisa lepas dari perjalanan sejarah berdirinya Penguasa Islam di daerah pesisir ini.

Pada saat berkuasanya Sunan Gunung Jati sebagai Pimpinan Islam di Cirebon, maka datanglah percobaan untuk meruntuhkan kekuasaan Cirebon di Jawa Barat. Tokoh pelakunya adalah Pangeran Welang dari daerah Karawang. Tokoh ini ternyata sangat sakti dan memiliki pusaka sebuah pedang bernama Curug Sewu. Penguasa Cirebon beserta para pendukungnya tidak ada yang bisa menandingi kesaktian Pangeran Welang. dalam keadaan kritis maka diputuskan bahwa utnuk menghadapi musuh yang demikian saktinya harus dihadapi dengan diplomasi kesenian. Setelah disepakati bersama antara Sunan Gunung Jati, Pangeran Cakrabuana dan Sunan Kalijaga maka terbentuklah team kesenian dengan penari yang sangat cantik yaitu Nyi Mas Gandasari dengan syarat penarinya memakai kedok/topeng.

Mulailah team kesenian ini mengadakan pertunjukan ke setiap tempat seperti lazimnya sekarang disebut ngamen. dalam waktu singkat team kesenian ini menjadi terkenal sehinga Pangeran Walang pun penasaran dan tertarik untuk menontonnya. Setelah pangeran Walang menyaksikan sendiri kebolehan sang penari, seketika itu pula dia jatuh cinta, Nyi Mas Gandasari pun berpura - pura menyambut cintanya dan pada Saat Pangeran Walang melamar maka Nyi Mas Gandasari minta dilamar dengan Pedang Curug Sewu. Pangeran Walang tanpa pikir panjang menyerahkan pedang pusaka tersebut bersamaan dengan itu maka hilang semua kesaktian Pangeran Walang.

Dalam keadaan lemah lunglai tidak berdaya Pangeran Walang menyerah total kepada sang penari Nyi Mas gandasari dan memohon ampun kepada Sunan Gunung Jati agar tidak dibunuh. Sunan Gunung Jati memberi ampun dengan syarat harus memeluk agama Islam. Setelah memeluk agama Islam Pangeran Walang dijadikan petugas pemungut cukai dan dia berganti nama menjadi Pangeran Graksan. Sedangkan para pengikut Pangeran Walang yang tidak mau memeluk agama Islam tetapi ingin tinggal di Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk menjaga keraton - keraton Cirebon dan sekitarnya.

( Cerita ini diambil dari buku Babad Cirebon Carang Satus dan pernah dipentaskan melalui pagelaran Wayang Golek Cepak oleh Dalang Aliwijaya di Keraton Kacirebonan Cirebon ).

Melihat keberhasilan misi kesenian topeng bisa dijadikan penangkal serangan dari kekuatan - kekuatan jahat maka pihak penguasa Cirebon menerapkan kesenian topeng ini untuk meruat suati daerah yang dianggap angker. Dan kelanjutannya kesenian topeng ini masih digunakan di desa - desa untuk upacara ngunjung, nadran, sedekah bumi dan lain - lainnya.

Setelah masyarakat menerima tradisi meruat itu, di samping harus ada pagelaran wayang kulit juga harus menampilkan tari topeng, maka tumbuh suburlah penari - penari topeng di Cirebon. Namun yang mula - mula menarikan tari topeng ini kebanyakan para dalang wayang kulit yang sebelum pentas wayang, pada siang hari sang dalang harus menari topeng terlebih dahulu. Oleh karenanya para dalang wayang kulit yang lahir sebelum tahun 1930 diwajubkan untuk mendalami tari topeng terlebih dahulu sebelum menjadi dalang wayang kulit. Dalam hubungannya pihak keraton selalu melibatkan kesenian untuk media dakwah dalam penyebaran agama Islam, dan pihak keraton memberikan nama Ki Ngabei untuk seniman yang juga berdakwah.

Kesenian tari topeng Cirebon menjalankan sisi dakwah keagamaan dengan berpijak kepada tata cara mendalami Islam di Cirebon yang mempunyai 4 (empat) tingkatan yang biasa disebut : Sareat, Tarekat, Hakekat dan Ma'ripat.




TARI TOPENG CIREBON

Tari Topeng Cirebon, adalah salah satu tari/cerita tradisional yang masih hidup di kota Cirebon dan sekitarnya.



Secara garis besar tari Topeng Cirebon ini terdiri atas :
1. Tari yang bersifat raksasa ( Danawa )
2. Tari yang bersifat krodan ( gagah ) misalnya : Rahwana, Kangsa
3. Tari Tumenggungan
4. Tari Panji

Dari keempat tari topeng ini dapat dikembangkan secara tradisi, yang memiliki khas sendiri seperti :
1. Tari Panji
2. Tari Samba
3. Tari Tumenggung
4. Tari Rumyang
5. Tari Kelana / Rahwana
6. Tari Jingga Anom
7. Tari Pentul
8. Tari Tembem

Akan tetapi yang sampai saat ini dikenal adalah Tari Panji, Tari Samba, Tari Tumenggung, Tari Rumyang dan Tari Kelana / Rahwana.

Tari Topeng ini sesungguhnya secara filsafat menggambarkan perwatakan kehidupan manusia.

  1. Tari Panji : menggambarkan manusia yang suci layaknya seorang prabu, pemimpin yang arif, adil dan bijaksana dan selalu mengerjakan perbuatan yang baik.
  2. Tari Samba : menggambarkan gemerlapnya keduniawian, harta benda, wanita, bermewah - mewah, glamour. Oleh karena itu tarian ini kelihatan lincah dan kaya akan gerak dan irama.
  3. Tari Tumenggung : adalah gambaran dari sikap kehidupan prajurit dan kepahlawanan yang gagah berani. penuh dedikasi, loyalitas dan tanggung jawab yang tinggi.
  4. Tari Kelana / Rahwana : menggambarkan angkara murka, watak manusia yang serakah dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisi pribadinya. Namun dia juga adalah pemimpin yang kaya raya, memiliki keduniawian yang tangguh.
Melihat tradisi seni tari topeng, pengamatan kita tidak bisa lepas dengan perlengkapan yang dipakai seperti tersebut di bawah ini :

  1. Kedok / Topeng yang terbuat dari kayu dan cara memakainya dengan menggigit bantalan karet pada bagian dalam nya.
  2. Sobra sebagai penutup kepala yang dilengkapi dengan jamangan dan dua buah sumping.
  3. Baju yang berlengan.
  4. Dasi yang di lengkapi dengan peniti ukon (mata uang jaman dulu )
  5. Mongkron yang terbuat dari batik lokoan.
  6. Ikat pinggang stagen yang dilengkapi badong.
  7. Celana sebatas bawah lutut.
  8. Sampur / selendang
  9. Gelang tangan
  10. Keris
  11. Kaos kaki putih sampai lutut
  12. Kain batik
  13. Kadang - kadang dilengkapi dengan boro (epek)
Selain kelengkapan busana tersebut di atas kadang - kadang untuk Tari Topeng Tumenggung menggunakan tambahan berupa tutup kepala kain ikat dan di lengkapi dengan peci dan kaca mata.

Iringan gamelan biasanya berlaras slendro atau prawa yang terdiri dari :
  1. Satu pangkon bonang
  2. Satu pangkon saron
  3. Satu pangkon titil
  4. Satu pangkon kenong
  5. Satu pangkon jengglong
  6. Satu pangkon ketuk
  7. Satu pangkon klenang
  8. Dua buah kemanak
  9. Tiga buah gong (kiwul, sabet dan telon)
  10. Seperangkat kecrek
  11. Seperangkat kendang yang terdiri dari : kempyang, gendung, ketiping. Semuanya dimainkan dengan alat pemukul, kecuali untuk Tari Topeng Tumenngung kendang dimainkan secara biasa yaitu di tepak/dipukul dengan tangan.
Lagu - lagu yang mengiringi adalah :
  • Kembangsungsang untuk Topeng Panji
  • Kembangkapas untuk Topeng Pemindo
  • Rumyang untuk Topeng Rumyang
  • Tumenggung untuk Topeng Tumenggung
  • Barlen untuk Topeng Jinggaanom
  • Gonjing untuk Topeng Kelana
Juga dilengkapi dengan lagu tratagan dan lagu wayang perang pada saat perang antara Tumenggung dan Jinggaanom.

Ada baiknya untuk menambah pengetahuan kita bersama untuk mengetahui macam - macam bentuk sobra :
  • Sobra sulu selembar
  • Sobra jeruk sejajar
  • Sobra Gedang searip
  • Sobra Merang segedeng
Dengan mengetahui perjalanan seni tari tradisional di Cirebon khususnya jelaslah kita dituntut untuk berupaya agar seni ini tidak habis dimakan jaman dan ditinggalkan oleh generasi yang akan datang.

Sumber :
- Hasil Lokakarya "Menyingkap Tari Cirebon" - Keraton Kasepuhan, 19 Desember 1996
- Penulis : E. Yufuf Dendrabrata (Alm)

( Selamat Ulang Tahun sayang...dari aku yang tidak sempat menari di iringi kendangan kamu...)


Rabu, 2007 Juli 25

Keris





Pegangan keris gaya cirebonan berbentuk buta (raksasa)

Keris merupakan alat atau senjata untuk menjaga diri. Untuk masyarakat Jawa pada umumnya keris merupakan sejata tradisional mereka. Begitu pula di Cirebon pada jaman dahulu hampir setiap pria mempunyai keris sebagai tanda seorang pria. Tidaklah lengkap seorang pria yang berjalan keluar rumahnya tanpa sebilah keris di pinggangnya.
Keris di buat oleh seorang Mpu yang tugas dan pekerjaannya adalah sebagai pembuat keris. Pembuatan keris disesuaikan dengan permintaan seseorang; misalnya supaya raja menjadi berwibawa dan disegani oleh masyarakatnya maka si Mpu selama membuat keris tersebut selalu berdoa dan melakukan tindakan bathin seperti berpuasa, matigeni, mutih dan sebagainya agar keris yang mereka buat akan menjadi ampuh, berguna dan sesuai fungsi dari permintaan yang di kehendaki. Contohnya kasus Ken Arok yang memohon kepada Mpu Gandring agar keris yang Mpu buat sanggup untuk membunuh Tunggul Ametung yang sakti. Saat itu Mpu Gandring menyanggupi untuk membuat keris yang bertuah dan mampu untuk membunuh Tunggul Ametung harus di buat selama 7 tahun.



Beberapa fungsi keris dibawah ini adalah:

1. Sebagai alat/senjata pelindung diri.
Untuk berperang sebagian besar pria selalau menggunakan keris. Sebagian orang percaya bahwa keris bertuah dan mengandung tenaga supranatural, sehingga pemegang nya akan selalu berwibawa, membuat takut musuh dan tentu saja akan selalu menang.
2. Sebagai simbol status
Dahulu pemegang keris disesuaikan dengan status mereka saat itu. Ada yang setingkat raja, mentri, bupati, satria atau masyarakat bawah. Status mereka dapat dilihat dari jenis keris misalnya berupa ukiran, warna, asesoris dan modelnya.
3. Untuk upacara dan ritual
Pada saat-saat upacara tertentu keris digunakan sebagai apresiasi seorang raja kepada seseorang yang berjasa, atau sebagai tanda kehadiran seseorang dengan keris walaupun tidak hadir di acara tersebut. Atau sebagai tanda menyerah seperti Pangeran Diponegoro menyerahkan kerisnya ke Belanda pada saat beliau di tangkap. Kadang juga sebagai pelengkap atau asesoris pakaian adat mereka














Senin, 2007 Juli 23

Nama tempat dan jalan di Cirebon

Nama-nama tempat dan jalan di cirebon menyesuaikan tempat kegiatan atau kejadian di daerah waktu itu. Kemungkinan dulu orang sangat susah untuk menentukan atau menyebutkan alamat seseorang. Hingga saat ini pun nama-nama tersebut tetap abadi hanya beberapa tempat sudah berubah nama daerah dan jalannya.

Pasuketan

Dahulu daerah ini tempat Andong/Delman ngetem sehingga banyak sekali rumput di tumpuk/dikumpulkan di daerah ini

Pejlagrahan
Ini lah nama tempat pertama Pangeran Walangsungsang membangun pedukuhan di Cirebon dan disini pula terdapat masjid tertua di Cirebion dengan nama Masjid Pejlagrahan.

Pegajahan
Belum jelas kenapa di sebut pegajahan. Mungkin dahulu tempat kandang gajah kraton

Pulasaren

Pagongan

Tempat pembuat dan pengrajin gong

Prujakan
Banyak orang yang jualan rujak disini

Karanggetas
Dahulu pada saat syeh magelung datang ke tanah cirebon beliau mencari orang yang sakti untuk memotong rambutnya. Karna saking panjangnya rambutnya di gelung/diiket oleh karena itu beliau di sebut Syeh Magelung. Saat itu juga bertemu dengan Sunan Gunung Djati. Dengan menggunakan tangannya Sunan dapat memotong rambut. Dan kejadian itu konon di jalan Karang getas sekarang ini


Panjunan
Tempat rumah dan Masjid Pangeran Panjunan

Pandesan

Kepatihan
Tempat tinggal Pangeran Patih


Pekawatan

Cangkol

Kebumen

Kacirebonan
Kraton sebagai tempat tinggal Sultan Kacirebonan beserta keturunan nya. Keraton Kacirebonan ini merupakan pecahan dari Kasultanan kanoman.

Kaprabonan
Kraton sebagai tempat tinggal Sultan Kaprabonan beserta keturunan nya. Keraton Kaprabonan juga merupakan pecahan dari Kasultanan kanoman.

Kanoman
Kraton sebagai tempat tinggal para Raja-raja Kanoman dan keturunan nya

Kalijaga
Konon dulu Sunan Kalijaga pernah bersemadi di daerah ini pada saat mempersiapkan pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa sehingga tempat ini dikenal dengan nama Kalijaga

Kesambi

Kesunean

Pegambiran

Kesenden

Kegiren

(to be continue)

Asal nama Cirebon

Cirebon terdiri dari dua suku kata Ci dan Rebon. Kata yang berasal dari bahasa Sunda. Kata "Cai" (air) dan Rebon (Udang). Konon dulu Cirebon dikenal sebagai penghasil petis dan terasi dan dikenal hingga ke pedalaman Jawa barat, sehingga orang-orang Sunda mengenal nya dengan Cai-rebon. Alternatif lain berasal dari kata "Caruban" yang berati campuran, karena Cirebon sendiri terdiri dari berbagai macam suku dari Jawa, Melayu, Sunda, Cina dan Arab. Sebutan Cirebon menjadi terkenal dengan Cirbon, Crebon, Cerbon. Terutama orang-orang lokal disana menyebutnya demikian.

Cirebon didirikan pada hari Kamis 8 April 1445M atau bertepatan dengan tanggal 1 sura 1367 di daerah yang sekarang dengan sebutan Lemahwungkuk oleh Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Walangsungsang atau bergelar Pangeran Cakrabuana. Pada tahun tersebut penghuni di Cirebon terdiri dari 346 orang.

Dibangun nya Kraton Pakungwati (yang sekarang di kenal dengan Kraton Kasepuhan) pada tahun 1451 saka (Tunggal Tata Gunaning Wong) atau tahun 1529Masehi.
stihinggil Kasepuhan di bangun tahun 1347 saka (Banteng Tinata Bata Kuta)atau 1425 Masehi

Masjid AGung sang Ciptarasa dibangung 1498M dengan arsitek Raden sepet dari Majapahit.

Kraton kanoman di bangun tahun 1510 saka atau 1588Masehi.

Penganan khas Cirebon

Bubur Sop:
Bubur berisi irisan kol, daun bawang, kedele goreng, seledri yang dituangi kuah sop dan ditaburi suwiran ayam serta kerupuk. Sepintas sih makanan ini merupakan kombinasi dari bubur ayam dan Sayur Sop Cuma warnanya bening. Disajikan panas-panas dan biasanya bubur sop ini hanya dijual pada malam hari…

Sega Jamblang:
Sega Jamblang adalah berupa nasi campur lauk pauk. Disajikan di daun jati 2-3 lapis…enak jeh. Trus dengan lauk pauk bermacam-macam, seperti paru, daging, tempe, tahu, cumi, dll serta sambal khas cirebon. Para pedagangnya sangat khas sebab menggunakan meja rendah yang menggelar berbagai macam makanan dan dikelilingi oleh bangku panjang untuk duduk pembeli. Cara penyajiannya, si penjual menyodorkan nasi yang dibungkus daun jati kemudian pembeli mengambil sendiri lauk pauk yang ingin dimakannya. Bayarnya harus mengandalkan kejujuran para pembelinya karena pembeli menyebutkan apa saja yang dimakan.... Para penjual nasi jamblang cukup tersebar di kota Cirebon selain itu mereka buka 24 jam. Kawasan Gunung Sari merupakan daerah yang cukup banyak populasi penjual nasi Jamblang ini, penjual nya berderet di depan Grage Mall. Penjual Nasi Jamblang yang terkenal di Cirebon adalah Nasi Jamblang Mang Dul yang berlokasi di Gunung Sari (sebelah BCA)

Mie Koclok:
Kenapa sih disebut mie koclok karena sebelum d sajikan, mienya di rendam dulu di air panas pake tangkai saringan, setelah beberapa menit trus di angkat dan di koclok-koclok supaya airnya jatuh. Aja klalen kalau sudah sampe cerbon ....gw selalu mampir ke Lawanggada..., disana ada Kedai namanya "Mie koclok LawangGada". Mie koclock ini terdiri dari mie kuning yang disajikan dengan toge, kol, suwiran daging ayam, telor lalu disiram dengan kuah santan. Disajikan pas lagi panas sebab tidak enak kalau udah dingin. Selain di jalan Lawanggada ada juga tuh yg di perempatan Winaon dulu nya toko buku Kainama, tapi ada sumber yg bisa dipercaya katanya di daerah Panjunan

Nasi Lengko:
Nasi Lengko gampang aja kok bikinnya...isinya cuma terdiri dari bahan makanan yg sederhana seperti nasi putih, tahu, tempe, mentimun, toge (tokol base cerbone) dan daun kucai (ngerti kucai beli!). Kemudian ditaburi bawang goreng serta disiram bumbu kacang dan kecap. Enak kalo makannya ditemani krupuk aci putih…!Tukang jual Sega Lengko cukup tersebar di sekeliling kota Cerbon sebab makanan ini cukup sederhana juga terjangkau bagi masyarakat. Penjual Sega Lengko yang lumayan laris dan ramai pembeli adanya di Jl. Pagongan. Sempet nanya yg punya namanya pak H. Barno (kalau pak Bardi walikota). Katanya sudah 11 tahun jualan disana.

Docang:
Isinya bongko (Lontong maksudnya) di campur daun singkong, toge, kelapa parudan di tambah kerupuk. terus dimakan dengan kuah yg katanya terbuat dari bumbu oncom atau dage’ untuk sebutan orang Cirebon yg udah diinepin semalem. Makanan ini cuma beda jenis aja dengan lontong sayur tapi kuah 'dagenya yang digunakan membuat khas rasa tersendiri. Kalau mau cari makanan ini yg enak sih gw belum tahu dimana, katanya di daerah Tengah tani, ada yg bilang di pasar esuk.

Sate Kalong:
Sate Kalong ini adalah layaknya sate bakar biasa yg terbuat dari daging kerbau. Penyajiannya daging kerbau nya sudah di olah dengan bumbu dan di tusuk dengan sujen dan berbentuk kota panjang. Ada dua macam rasa, yaitu manis dan asin. Penjualnya biasanya bapak2 yg sudah sepuh karena selain semakin susah juga sudah kalah kali sama makanan fastfood yg sekarang semakin banyak di mall2 disana. Dulu sewaktu gw kecil mereka ini masih berkeliling di rumah2 dengan cara dipikul dan selalu membawa genta (krincingan), Genta ini adalah jenis yg selalu di pasang di leher kerbau..Menjualnya pun selalu malam hari hingga larut ...sehingga sate ini di sebut sate kalong....

Tahu Gejrot:
Tahu gejrot adalah salah satu makanan khas cirebon berupa tahu kecil-kecil sejenis tahu sumedang tapi dalamnya kosong dan rasanya gurih. Penyajiannya selalu di taroh di cawan yg terbuat dari tanah liat..bumbunya campuran dari bawang merah, cabe rawit dan kecap manis diaduk rata...selanjutnya di siramkan ke tahu nya tadi. Penjual nya dulu selalu berkeliling ke rumah-rumah. Ada bapak2 yg selalu bawa pikulan atau ibu2 yg selalu berkeliling dengan tampah yg selalu di taroh di atas kepalanya dengan nenteng ketel yg berisi air minum...Sekarang penjual yg keliling ini semakin susah di cari...yg ada penjual permanen di mall2 atau di pusat jajanan lokal...

Empal Gentong:
Empal Gentong adalah makanan khas masyarakat kota Cirebon. Makanan ini mirip dengan gulai (gule) dan dimasak menggunakan kayu bakar (pohon asem) yg dimasukan ke dalam anglo (kompor tanah liat) di dalam gentong (priuk tanah liat). Daging yang digunakan adalah daging sapi, jeroan yang terdiri dari babat, usus, paru, dan limpa yang direbus dalam kuah santan yang berbumbu special ditaburi daun kucai dipadu dengan rasa khas sambel bubuk dan krupuk rambak. Bisa di santap dengan lontong dan nasi.
Ada yg bilang kalau empal gentong ini berasal dari Desa Embat-embat dekat plered. Empal gentong cirebon yg terkenal adalah "Mang Dharma" yg berlokasi di jalan Slamet Riyadi krucuk.